Evaluasi Risiko Kebisingan Lingkungan Kerja Terhadap Kesehatan Pendengaran Operator Mesin

Penulis

  • Lenny Herawati
  • Ririn Ningkeula Universitas Insan Budi Utomo Malang
  • Ade Institut Teknologi Mojosari
  • Ulin Institut Teknologi Mojosari

Kata Kunci:

Kebisingan, Kesehatan Kerja, Gangguan Pendengaran, Operator Mesin, Nilai Ambang Batas

Abstrak

Kebisingan merupakan bahaya fisik di lingkungan industri yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran akibat bising (Noise-Induced Hearing Loss/NIHL), terutama pada operator mesin yang terpapar selama jam kerja. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kebisingan di lingkungan kerja serta dampaknya terhadap kesehatan pendengaran operator mesin di industri manufaktur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional. Intensitas kebisingan diukur menggunakan sound level meter pada lima area kerja, sedangkan kondisi pendengaran operator dinilai melalui pemeriksaan audiometri nada murni. Hasil menunjukkan bahwa tiga dari lima area memiliki tingkat kebisingan di atas Nilai Ambang Batas (85 dB(A) untuk pajanan delapan jam kerja). Operator yang bekerja di area tersebut dan memiliki masa kerja lebih dari lima tahun menunjukkan penurunan ambang dengar yang lebih tinggi. Risiko gangguan pendengaran juga meningkat akibat penggunaan alat pelindung telinga yang tidak konsisten. Penelitian ini merekomendasikan penerapan pengendalian kebisingan melalui pengendalian teknis, administratif, serta penggunaan alat pelindung diri secara konsisten untuk mengurangi risiko gangguan pendengaran pada operator mesin.

Referensi

Basner, M., Babisch, W., Davis, A., Brink, M., Clark, C., Janssen, S., & Stansfeld, S. (2014). Auditory and non-auditory effects of noise on health. The Lancet, 383(9925), 1325–1332.

Berger, E. H., Neitzel, R., & Kladden, C. A. (2015). Noise navigator sound level database (Ver. 2.0). 3M Personal Safety Division.

Concha-Barrientos, M., Campbell-Lendrum, D., & Steenland, K. (2004). Occupational noise: Assessing the burden of disease from work-related hearing impairment at national and local levels. World Health Organization.

Fitriyani, R., & Wahyuni, S. (2021). Hubungan masa kerja dan kebisingan dengan gangguan pendengaran pada pekerja industri tekstil. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 16(2), 88–96.

Hong, O., Kerr, M. J., Poling, G. L., & Dhar, S. (2013). Understanding and preventing noise-induced hearing loss. Disease-a-Month, 59(4), 110-118.

International Labour Organization. (2019). Safety and health at the heart of the future of work. ILO Publications.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 70 Tahun 2016 tentang Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri. Kemenkes RI.

Le, T. N., Straatman, L. V., Lea, J., & Westerberg, B. (2017). Current insights in noise-induced hearing loss: A literature review of the underlying mechanism, pathophysiology, asymmetry, and management options. Journal of Otolaryngology-Head & Neck Surgery, 46(1), 41.

National Institute for Occupational Safety and Health. (1998). Criteria for a recommended standard: Occupational noise exposure (Revised criteria). NIOSH Publications.

Nelson, D. I., Nelson, R. Y., Concha-Barrientos, M., & Fingerhut, M. (2005). The global burden of occupational noise-induced hearing loss. American Journal of Industrial Medicine, 48(6), 446–458.

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI No. 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja. Kementerian Ketenagakerjaan RI.

Pratiwi, A. D., & Setyawan, H. (2019). Evaluasi kepatuhan penggunaan alat pelindung telinga pada pekerja industri manufaktur. Jurnal Kesehatan Lingkungan Kerja, 7(1), 33–41.

Unduhan

Diterbitkan

31-07-2026